Sorong Selatan, sebuah kabupaten di Papua Barat Daya, memukau dengan bentang alamnya yang kaya, meliputi hutan lebat, sungai yang mengalir, rawa gambut, hutan mangrove, hingga pesisir pantai. Keindahan alam ini tidak hanya menjadi pemandangan, tetapi juga ruang hidup yang membentuk identitas dan kearifan lokal masyarakat di wilayah seperti Konda, Bariat, dan Klaogin.
Kekayaan Alam dan Keanekaragaman Hayati Sorong Selatan
Ekosistem di Sorong Selatan menunjukkan keterkaitan yang erat. Di Bariat, misalnya, aliran ekosistem bergerak dari hutan menuju kawasan gambut dan mangrove. Sementara itu, di Klaogin, sungai menjadi penghubung vital antara daratan, mangrove, dan pesisir. Keragaman lanskap ini menjadi rumah bagi flora dan fauna yang melimpah. Meizani Irma Dianni, Senior Vice President dan Executive Chair Konservasi Indonesia, pada jumpa pers di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026, mengungkapkan bahwa 416 jenis tumbuhan dan 372 jenis satwa telah teridentifikasi di Sorong Selatan. Hutan Adat Konda, khususnya, memiliki nilai historis dan pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi, menjadikannya aset penting bagi masyarakat.
Relasi Mendalam Masyarakat dengan Lingkungan
Hubungan antara masyarakat Sorong Selatan dan alam adalah inti dari kehidupan mereka. Lingkungan sekitar dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari bahan pangan dan hasil hutan hingga ikan dari sungai. Pengetahuan tentang pemanfaatan sumber daya ini diajarkan sejak usia dini, terintegrasi dalam kehidupan keluarga dan rutinitas harian. Keterikatan ini juga tercermin dalam cara mereka mengolah bahan pangan lokal menjadi hidangan khas.
Didi Kaspi Kasim, Editor in Chief National Geographic Indonesia, menekankan pentingnya wisatawan merasakan koneksi emosional dengan destinasi yang dikunjungi. “Sejatinya, sebuah destinasi yang baik adalah ketika kita yang telah berkunjung pulang, ada perasaan seperti kita harus ikut menjaga,” ujarnya. Sentimen serupa diungkapkan oleh Martinus Sawen, Kepala Kampung Klaogin, yang menganggap hutan sebagai “mama kandung” karena menjadi sumber utama makanan, minuman, kayu bakar, sayur, ikan, dan daging. Pandangan ini adalah wujud kearifan lokal yang membimbing kehidupan masyarakat Klaogin.
Gastronomi Lokal yang Berakar pada Alam
Kekayaan alam Sorong Selatan turut memperkaya khazanah kuliner lokal. Bahan-bahan yang bersumber langsung dari lingkungan diolah menjadi makanan yang tak terpisahkan dari keseharian warga. Papeda, makanan pokok berbahan sagu, adalah warisan turun-temurun yang sering disajikan dengan kuah kuning ikan. Pengetahuan memasak diturunkan dari generasi ke generasi, di mana para ibu mengajarkan teknik mengolah bahan pangan secara bertahap, sementara anak-anak belajar melalui observasi dan partisipasi di dapur.
Ulat sagu menjadi contoh lain pemanfaatan bahan pangan lokal yang unik. Ulat-ulat ini ditusuk seperti sate saat masih hidup, lalu dibakar hingga matang dan siap disantap, menunjukkan tradisi kuliner yang kuat berbasis sumber daya alam sekitar.
Jejak Sejarah dan Kearifan Lokal
Hutan Adat Konda menyimpan pohon-pohon damar tua berbatang besar yang menjadi saksi sejarah, bahkan sejak masa kolonial. Keberadaan pohon-pohon ini menawarkan potensi ekowisata yang memadukan keindahan alam dengan narasi sejarah kawasan. Getah damar, yang dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bakar pelita dan penunjuk arah, juga memiliki nilai ekonomi dan berpotensi untuk industri parfum, kosmetik, serta farmasi.
Di sekitar Hutan Adat Konda, masyarakat subsuku Nakna di Kampung Nakna memiliki ikatan spiritual yang mendalam dengan pohon-pohon keramat milik keluarga. Ikatan ini merupakan bagian integral dari kearifan lokal mereka dalam menjaga kelestarian hutan adat. Pengetahuan tentang manfaat damar dan aturan pelestarian pohon diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya, memastikan keberlanjutan tradisi dan lingkungan.
Artikel belum memiliki isi.
Judul artikel sudah tersedia, tetapi naskah lengkapnya belum dipublikasikan.

